Anjloknya Harga Sayur Labu Siam, di Desa Cikaracak - Argapura.

Editor: Redaksi author photo

(jabarsatu.id), Majalengka - Berubahnya harga sayuran di pasaran, membuat petani labu siam meradang. Pasalnya, cuaca ekstrim musim kemarau mulai datang, ditambah biaya operasional mahal dan masa panen yang tidak sesuai.

Keluh kesah anjloknya harga sayur ini, diterangkan oleh Abah Edi salah seorang petani sayuran labu Siam ke awak media jabarsatu.id di area perkebunan labu di Desa Cikaracak - Argapura.

Menurut "Abah" sapaan akrabnya, harga labu siam biasanya Rp. 3.500-4.000 per kilo, tapi sekarang hanya Rp 500-800 per kilonya.

Ini harganya bukan turun tetapi berubah. Kondisi ini membuat kami petani merugi, dipanen harganya murah tidak dipanen ya tambah parah, biasanya kalau harganya normal bisa tambah tenaga kerja, alias ngupah untuk mempercepat kerjaan. Keluhnya. (Selasa, 7-7-2020).

Dengan anjloknya harga sayuran lanjut Abah Edi, sudah tidak mungkin ia mengambil tenaga kerja untuk membantu panen.

Harga cuman Rp.500 seperti saat ini,untuk upahnya saja tidak cukup, terpaksa panenpun kerja sendiri. Anjloknya harga labu siam ini dimungkinkan lagi banjir alias panen raya di daerah lain. Kalau barang banyak atau banjir seperti sekarang harga pasti turun, imbuhnya.

Pantauan di Lokasi Petani Labu Siam , sayur di sortir yang sudah dipanen, kemudian dimasukkan ke dalam karung untuk siap dipasarkan. (Korlip - Tedi/AS)
Share:
Komentar

Berita Terkini