Dampak PSBB Bagi Warga Subang

Editor: Redaksi author photo


(jabarsatu.id), Subang - Masa pandemi Covid-19  melanda  Indonesia, tidak terkecuali Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat yang menerapkan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSPB). Membuat masyarakat kesulitan untuk mencari nafkah di luar rumah, baik sebagai pekerja maupun mereka yang mengandalkan usaha kecil-kecilan. Seperti tukang Nasi Goreng, Pecel Lele, pedagang Gorengan ataupun pedagang asongan dan lainnya.

Salah satu Pedagang asongan penjual kopi yang biasa berjalan di alun-alun Subang, ketika di tanya Jabarsatu.id terkait dampak adanya Covid-19 dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSPB) mengatakan, susah mas, berjualan saat itu. Selalu kena usir petugas Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) karna tidak boleh berkerumun, gimana mau laku. Pulang selalu enggak bawah uang, gimana mau memenuhi kebutuhan keluarga kalau begini terus, bisa mati kelaparan," kata bu Ijah sambil menarik napas panjang dan berat.

Hal senada juga di katakan Yusuf pedagang bakso malang yang biasa mangkal di alun-alun, hampir tiap hari selalu sisa banyak, untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup mas. Apalagi harus bayar kontrakkan, ini saja sudah berhutang di mana-mana untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mau pulang kampung sama saja, malah menyusahkan keluarga yang memang sudah susah mas", katanya pada Jabarsatu.id malam Sabtu 24-07-2020.

(Ari, petugas  parkir liar)

Sementara itu, Ari seorang petugas  parkir liar di malam hari  yang biasa bertugas di area sekitar masjid Agung Musabaqoh depan alun-alun kota Subang ketika ditanya Jabarsatu.id apa  yang dirasakan akibat  covid19, mengatakan,  serba susah mas, apalagi sekarang alun-alun jadi sepi pengunjung. 

penghasilan jadi berkurang jauh, jangankan untuk membayar kontrakkan, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup, apalagi seperti saya (Red. Ari) anak perantauan yang hidup sebatang kara, "katanya.

Yang kemudian di timpali oleh pemilik kios rokok yang tidak mau menyebutkan namanya tempat Ari biasa nongkrong disekitar masjid Agung Musabaqoh menjelaskan, Iya mas kasihan  dia (red. Ari) yang hidup sebatang kara, karena kedua orang tuanya bercerai. 

Bapaknya yang asal dari Padang seorang pemabuk dan suka main perempuan, sampai-sampai ibunya pergi merantau ke Riau karena ulah bapaknya, "ujar pemilik kios rokok. (Dadang)
Share:
Komentar

Berita Terkini