Kisah Cinta Dzulhijjah

Editor: Redaksi author photo

(Jabarsatu.id), Kuningan - Bulan Dzulhijjah atau sering kita kenal dengan bulan haji adalah bulan yang terdapat banyak amalan khusus yang dapat dilaksanakan oleh kaum muslimin, seperti puasa tarwiyah dan ‘arofah, ibadah haji, salat ‘id , serta berkurban. Rangkaian ibadah tersebut erat kaitannya dengan kisah perjalanan keluarga Nabi Ibrahim AS.

Jika kita perhatikan, keluarga Nabi Ibrahim AS. merupakan profil keluarga teladan yang dapat kita ambil pelajaran. Oleh karenanya Al-Qur’an memberikan gelar kepada Nabi Ibrahim AS dengan gelar Uswatun Hasanah. Sebagai mana kita ketahui, dari sekian Nabi dan Rasul yang ada, hanya dua orang Nabi yang mendapatkan gelar Uswatun Hasanah di dalam Al-Qur’an, yakni Nabi Ibrahim AS. dan Nabi Muhammad SAW. karena keduanya adalah prototipe keluarga teladan, keduanya memiliki keluarga inti (istri dan anak) yang Saleh dan salehah juga merupakan teladan bagi umat.

Berbicara keluarga maka akan berbicara cinta. Begitul pula dengan perjalanan keluarga Nabi Ibrahim AS. yang kemudian melahirkan syariat yang kita lakukan di bulan Dzulhijjah pun sarat dengan kisah kasih dan cinta. Mari kita simak kisahnya agar kita dapat mengambil pelajaran.

Cinta Ibrahim kepada Istri-istrinya

Sebagaimana yang populer kita bahas bahwa Nabi Ibrahim memiliki dua istri yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar. Meski sebagian ahli tarikh ada yang menyebutkan bahwa istri Nabi Ibrahim ada empat. Wa Allahu a’lamu. Yang jelas Nabi Ibrahim menyayangi dan mencintai istri-istrinya tanpa pilih kasih. Kasih Ibrahim kepada istri-istrinya tergambar dalam banyak kisah.

Abu Hurairah R.A. meriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Ibrahim A.S. tidak pernah berdusta kecuali tiga kali. Dua diantaranya karena Allah: yang pertama adalah perkataannya ketika diajak untuk beribadah kepada berhala tuhan mereka dan Ibrahim A.S. menjawab, ‘Sesungguhnya aku sakit.’ (Q.S. As-Shaffat: 89); dan yang kedua adalah perkataannya, ’Sebenarnya patung besar itulah pelakunya.’ (Q.S. Al-Anbiya: 63). Lalu yang ketiga adalah perkataannya tentang Sarah, ‘Sesungguhnya dia saudariku‘.”

Dikisahkan bahwa saat Nabi Ibrahim mendapatkan tekanan dari Raja Namrud yang lalim serta diusir oleh ayahnya (Q.S Maryam: 46), maka dengan terpaksa dan hati pilu Nabi Ibrahim, Siti Sarah, Luth, dan beberapa pengikutnya hijrah dari Babylonia menuju negeri Syam. Namun setelah sampai di Syam ternyata sedang terjadi paceklik, akhirnya Ibrahim dan keluarga kembali hijrah ke Mesir.

Sesampainya di Mesir keadaan pun tidak semanis yang dibayangkan. Semasa di Mesir, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah harus berjuang untuk mempertahankan cinta mereka dari kelaliman raja yang konon bernama ‘Amr bin Amru’ Al-Qais bin Mailun. Setiap mendengar ada wanita cantik, sang raja selalu ingin memilikinya. Ia tidak peduli sekalipun wanita itu telah bersuami. Termasuk raja memiliki hasrat kepada Siti Sarah yang memang kecantikannya setara dengan Siti Hawa Istri Adam AS.

Cinta Nabi Ibrahim kepada Siti Sarah telah memaksanya untuk mengatakan hal yang bohong. Hal itu tidak lain adalah untuk menyelamatkan keutuhan rumah tangga mereka. Ya, para rasul Allah sangat terjaga lisannya, mereka hanya menyampaikan kebenaran. Namun kali ini, Nabi Ibrahim terpaksa berdusta dengan mengatakan, “Sesungguhnya dia saudariku.”

Nabi Ibrahim dan Siti Sarah tidak henti-hentinya berdoa agar Allah selamatkan mereka dari raja lalim yang berkali-kali ingin menodai Siti Sarah. Karena ketakwaan keduanya kepada Allah, kemudian Allah selamatkan Ibrahim, Sarah dan cintanya dari raja lalim tersebut. Bahkan Allah menggerakan hati si raja untuk memberikan hadiah seorang hamba sahaya bernama Hajar atas ketakwaan mereka berdua kepada Allah serta kekuatan jiwa dan cinta mereka.

Kembali keluarga Nabi Ibrahim hijrah meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis, Palestina. Mereka tak henti-hentinya berjuang untuk menyeru orang-orang agar menyembah Allah. Berpuluh-puluh tahun tinggal dan berdakwah di daerah yang aman, namun ujian Allah datang dalam bentuk yang lain.

Allah masih hendak menguji bahtera rumah tangga Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Berpuluh tahun menanti buah hati, namun Allah belum juga berkenan memenuhi keinginan mereka. Segala daya dan upaya tak putus-putus mereka usahakan. Segala harap dan pinta tak henti-henti mereka senandungkan.
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (Q.S. As-Saffat:100)

Bagi Nabi Ibrahim anak bukan sekedar perekat cinta dan penghibur hati, namun ada yang lebih penting dari itu yakni pewaris risalah suci. Nabi Ibrahim tidak ingin Dakwah Tauhid itu terhenti karena Nabi Ibrahim tidak memiliki keturunan untuk kemudian melanjutkan perjuangannya berdakwah.

Cinta adalah Kerelaan Hati

Cinta tidak harus memiliki. Begitu peribahasa menyebutnya. Karena sejatinya cinta adalah pengorbanan. Begitulah yang dilakukan Siti Sarah, hanya saja berbeda kelas. Karena cintanya Siti Sarah bukan saja hal pengorbanan, namun cintanya adalah kerelaan karena Allah, karena risalah dakwah.

Melalui kejernihan hatinya, lewat munajat yang tak pernah putus kepada Rabb-nya, Siti Sarah teringat kepada hamba sahayanya, Siti Hajar. Sejak hidup bersama keluarga mereka, Siti Hajar pun telah menjadi wanita yang beriman yang mengikuti risalah Nabi Ibrahim. Siti Sarah melihat pancaran keimanan dan kesalehan dalam diri Siti Hajar. Allah telah melapangkan hati Siti Sarah untuk menawarkan Siti Hajar kepada suaminya sebagai pendamping hidup. Tiada lain keinginannya adalah semoga Allah memberikan keturunan darinya.

Nabi Ibrahim pun akhirnya menikahi Siti Hajar. Tak lama berselang, Allah berkenan memberikan kabar gembira kepada mereka dengan kehadiran Ismail.
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (Q.S. As-Saffat:101)

Dan lebih yang menkajubkan adalah balasan dari kesabaran dan keihklasan Siti Sarah. Tidak berselang lama dari kelahiran Ismail melalui rahim Siti Hajar, datang kabar gembira bahwa akan lahir dari rahim Siti Sarah seorang laki-laki yang ‘alim yang kemudian bernama Ishaq.
“Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut’ dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) anak yang ‘alim (Ishaq)”. (Q.S. Adz-Dzaariyat: 28)

Siti Sarah sempat tidak percaya dengan kabar tersebut. Karena secara ilmu kedokteran diusianya yang sudah lansia diatas 90 tahun juga mandul, mana mungkin dapat melahirkan seorang anak (Q.S Hud: 72 dan Q.S Adz-Dzaariyat: 29). Namun para malaikat meyakinkan Nabi Ibrahim dan Sarah. Betapa semua hal yang terjadi adalah ketetapan Allah. Berita tentang kelahiran Ishaq, yang kemudian akan disusul dengan Ya’qub, itu adalah rahmat dan berkah Allah yang dicurahkan kepada Nabi Ibrahim dan Sarah (Q.S. Hud: 73).

Betapa manis akhir penantian Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Kisah cinta Nabi Ibrahim dan Siti Sarah penuh liku dan penuh warna. Mereka telah menorehkan sejarah yang abadi melalui jalan ketaatan yang mereka tempuh, begitu pula dengan buah cinta mereka. Salaa bisamun `ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim. (Andri)

Penulis: Ade Zezen MZ, S.Pd
(Guru Ponpes Al-Multazam)
Share:
Komentar

Berita Terkini