Otaku, Kedai ala Jepang yang Merupakan Generasi Awal Populerkan Ngopi di Kuningan

Editor: Redaksi author photo

(jabarsatu.id), Kuningan – Bagi pecinta kopi, siapa yang tak tahu kedai yang satu ini, Otaku Coffee yang Jalan RE Martadinata Kelurahan Ciporang Kecamatan Kuningan.

Kedai yang berdiri sejak tahun 2015 ini, bisa dibilang generasi awal, kedai yang mempopulerkan kopi asli, sehingga, saat ini banyak tempat ngopi dimana-mana.

Kata Otaku sendiri, dijelaskan ownernya, Zeze, diambil dari Bahasa Jepang. Meski kini Otaku lebih dikenal sebagai penggila anime.

Ternyata arti kata Otaku sendiri adalah penggila hobi, atau hobi yang benar-benar ditekuni. Hal itulah yang disukai Zeze, budaya kerjanya orang Jepang.

“Kebetulan memang saya seneng budaya kerjanya mereka (Jepang, red), maka saya juga mulai terapkan disini. Ya awalnya disiplin keuangan dulu,” ujar sarjana lulusan Unisba tersebut.

Diakuinya awal membangun kedai di Kuningan, dirasainya cukup berat dan perjuangan dari modal terbatas.

Ia yang memang terbiasa dengan kopi asli, bertekad untuk memperkenalkan budaya ngopi asli pada masyarakat luas yang kadung lebih terbiasa kopi sachet, yang ternyata kandungan kopinya hanya ada di kisaran 5 persenan saja.

“Awalnya jual kopi item, ada untung kita belikan katel, terus beli alat lain, ada untung lagi beli mesin ekspresso, ada untung lain beli mesin roasting yang kecil, ada untung lagi, baru kebeli mesin roasting yang besar, harganya itu 135 jutaan,” ceritanya hingga bisa membeli mesin roasting besar.

Mesin roasting dengan kapasitas besar sendiri, termasuk cukup langka di kedai-kedai Kuningan. Hanya ada beberapa saja yang mampu membeli peralatan yang baik dengan harga yang cukup tinggi. Tentu, melalui proses tersebut.

Saat ini, di kedainya ada 7 orang yang bekerja dalam dua shift, jam 8 pagi sampai jam 4 sore, lalu shift kedua melanjutkan hingga jam 12 malam.

Dari semua menu kopi yang tersedia, andalan di Otaku adalah kopi miruku. Miruku, berasal dari Bahasa Jepang yang artinya susu.

Kopi Miruku, artinya kopi susu dengan takaran khusus dan biji kopi yang lembut dan nyaman ketika dikonsumsi.

Beberapa kopi, diambil dari daerah sendiri, Kuningan. Ada beberapa jenis kopi seperti CIbunar dan Darma yang biasa digunakan untuk menu andalannya tersebut.

Ada juga kopi yang berasal dari daerah tetangga, seperti Jahim dan Lemahsugih Majalengka. Selain itu juga yang berasal dari Palasari Bandung.

Lalu untuk kopi hitam, terdapat juga kopi yang berasal dari luar Jawa, seperti Kopi Gayonya Aceh, Kopi Bali, dan Kopi Toraja.

“Kalo dari pengunjung sih, yang bikin betah disini yak arena menunya ya, terus juga karena konsepnya. Apalagi di belakang ini kan luas dan gak terlalu bising. Rencannya mau bikin taman jepang juga di belakang,” tuturnya.

Saat ditanyai soal merebaknya kedai kopi di Kuningan, Zeze menanggapinya positif.

Menurutnya, dirinya malah lebih terbantu memperkenalkan kopi asli pada masyarakat luas. Meski tentu saja, pada akhirnya, setiap kedai akan membentuk pasar dan segmen tersendiri.

Konsep maju babarengan, rame babarengan, menjadi slogannya.

“Kita kan berada di lereng gunung Ciremai. Kita punya banyak potensi, termasuk di Kopi. Jadi kedepannya, kalo nyari oleh-oleh dari Kuningan tuh bukan cuman peuyeum, tapi kopi juga,” jelasnya sembari menyebut harapannya agar Kuningan dikenal sebagai kota kopi.

Saat ini, dijelaskannya, masyarakat petani, terutama yang bekerjasama dengan Otaku, sudah diberi pemahaman yang cukup tentang klasifikasi dan grade kopi, dari mulai kelas satu, kelas dua bahkan premium.

Klasifikasi tersebut, membantu menaikan harga jual kopi di pasaran dan membantu menambah perekoomian petani. (Andri)
Share:
Komentar

Berita Terkini