Tim Advokasi Novel Baswedan Melaporkan Irjen Rudy Heriyanto ke Propam Polri.

Editor: Redaksi author photo


(Jabarsatu.id), Jakarta - Mantan Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya, Irjen Rudy Heriyanto di laporkan oleh tim advokasi Novel Baswedan ke Divisi Propam Polri. Diduga melanggar etik profesi karena menghilangkan barang bukti di kasus penyiraman air keras.
Menurut Kurnia Ramadhana, pihaknya melaporkan Irjen Rudy Heriyanto selaku mantan Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya ke Divisi Propam Polri atas dugaan pelanggaran kode etik profesi karena sudah menghilangkan barang bukti dalam perkara penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan," kata dalam keterangan persnya, Selasa (7/7/2020).
Anggota Tim Advokasi, Kurnia Ramadhana melanjutkan, Irjen Rudy Heriyanto Sebelumnya menjabat Kepala Divisi Hukum Polri, merupakan bagian dari tim penyidik yang menangani perkara penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan . Saat itu dia berpangkat komisaris besar (kombes) dan menduduki sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Maka segala  proses penyidikan menjadi tanggung jawabnya. Termasuk dalam hal ini adalah dugaan penghilangan barang bukti yang terkesan sengaja dilakukan untuk menutupi fakta sebenarnya," lanjutnya
Kurnia mengatakan, Dugaan atas pelanggaran kode etik yang dimaksud  adalah, sidik jari pelaku di botol dan gelas yang digunakan sebagai alat penyerangan diduga hilang. Karna Pada tanggal 17 April 2019 Kabid Humas Polda Metro Jaya, yang pada saat itu dijabat oleh Irjen Kombes Argo Yuwono, menyampaikan bahwa tim penyidik tidak menemukan sidik jari dari gelas yang digunakan oleh pelaku untuk menyiram wajah Novel Baswedan.
Tetapi,berdasarkan pengakuan dari korban atau pun para saksi, gelas tersebut ditemukan oleh kepolisian pada hari yang sama, 11 April 2017, sekitar pukul 10.00 WIB dalam kondisi berdiri. Dengan demikian, sudah barang tentu, sidik jari tersebut masih menempel dalam gelas dan botol, terlebih lagi pada saat ditemukan gagang gelas tidak bercampur cairan air keras itu, " katanya
Ia menambahkan, Tak hanya itu,botol dan gelas yang digunakan pelaku tidak dijadikan barang bukti dalam proses penanganan perkara tersebut. Diduga dalam perkembangan penanganan perkara tersebut ada fakta yang disembunyikan oleh kepolisian.
"Hal ini terkait dengan pengakuan dari terdakwa yang menyebutkan bahwa persiapan penyiraman telah dilakukan sejak kedua orang itu masih berada di markas Brimob. Padahal, persiapan penyiraman dilakukan di dekat kediaman korban, ini dapat dibuktikan dari aspal yang terkena siraman air keras saat pelaku menuangkan dari botol ke gelas," 


Share:
Komentar

Berita Terkini