Pemasangan Seismograf di Kecamatan Serang Panjang

Editor: Redaksi author photo

(Jabarsatu.id), Subang - Bencana alam adalah salah satu kuasa Tuhan, yang tak dapat di prediksi kapan datangnya oleh manusia dan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Salahsatu contohnya adalah gempa bumi, gempa bumi adalah salah satu bencana alam yang kerap kali mengguncang tanah air dan tak sedikit menimbulkan kerugian dan dampak yang menyedihkan bagi masyarakat.

Namun selain daripada itu tak sedikit juga masyarakat kita yang penasaran ingin tahu mengapa dan bagaimana gempa tersebut dapat terjadi serta dimana pusat gempa tersebut berada.

Maka dari itulah Badan Meteorologi Krimatologi dan Geofisika (BMKG) banyak melakukan pengamatan dan penelitian terkait gempa yang terjadi di Indonesia sebagai salah satu cara untuk mengetahui berapa besar skala serta dimana pusat gempa itu berada.

Salah satu contoh implementasi dari pengamatan dan penelitian yang dilakukan BMKG adalah, dengan membangun shelter seismograf.

Misalnya shelter seismograf, yang baru dibangun di kecamatan Serangpanjang Kabupaten Subang. Yang berfungsi untuk mencatat dan merekam kejadian gempa yang terjadi di wilayah Jawa Barat khususnya Kabupaten Subang sendiri. 

Dengan adanya shelter ini diharap kan akurasi atau ketepatan analisa data yang dihasilkan BMKG itu akan semakin akurat.

Menurut keterangan Pa Imat Ruhimat selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) saat ditemui dilokasi shelter tersebut (Kamis, 13/08/2020) Beliau menerangkan sedikitnya tentang fungsi dari shelter seismograf tersebut.

"Shelter seismograf yang baru dibuat di Serangpanjang ini berfungsi untuk mencatat atau merekam kejadian gempa bumi yang terjadi di wilayah Jawa Barat khususnya kabupaten subang sendiri. Wilayah Jawa Barat merupakan daerah yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami". Ucapnya.

"dengan 2 jenis sumber gempa yaitu sumber gempa di Daerah Subduksi yang berada di laut selatan pulau Jawa dan sumber gempa di darat dari sesar aktif. Nah, berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks ini maka gempa dapat terjadi kapan saja dan dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman". Ujarnya.

Pa Imat juga menambahkan tentang hasil monitoring BMKG. "Adapun hasil monitoring BMKG menunjukan selama periode 2008-2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 5.818 kali gempa signifikan. Dengan magnitudo diatas 5,0 sebanyak 347 kali, dan dalam 2 tahun sekali terjadi gempa yang berpotensi tsunami". Pungkasnya. (Kang Muhtar)
Share:
Komentar

Berita Terkini