Vaksin Untuk Ikan

Editor: Redaksi author photo

Vaksin masih menjadi bahan perbincangan masyarakat dunia, termasuk Indonesia, khususnya terkait dengan pandemi Covid-19 yang belum terlihat tanda-tanda berakhirnya.Ternyata tak hanya manusia,

Hewan, termasuk ikan pun memerlukan vaksin untuk mencegah dari serangan penyakit yang berasal dari bakteri.

Bakteri Streptococcus sp. adalah bakteri yang sering menggagalkan hasil budidaya ikan nila. Bakteri tersebut menginfeksi ikan nila dan serangannya bersifat akut hingga kronik, bahkan bisa menyebabkan kematian hingga 70%.

Gejala klinis yang ditunjukan ikan nila saat terserang bakteri Streptococcus sp. ini antara lain nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, pergerakan tidak terarah (nervous), bentuk tubuh asimetris, perut kembung (dropsy), pendarahan atau luka yang berkembang menjadi ulser. Selain itu ikan juga terkadang tidak menunjukan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung.

Cara yang paling murah dan efisien dalam pengendalian serangan bakteri adalah dengan pencegahan. Strategi pencegahan ikan dari serangan bakteri yang sudah diyakini cukup efektif adalah melalui vaksinasi.

Program vaksinasi pada perikanan budidaya mampu (1) menurunkan tingkat mortalitas akibat infeksi patogen potensial, (2) mengurangi penggunaan antibiotik, dan (3) meminimumkan munculnya resistensi patogen terhadap antibiotik.

MENGENAL VAKSIN STREPTOVAC

Dalam rangka memecahkan masalah serangan bakteri pada budidaya ikan nila, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar pun mengeluarkan obat ‘penangkal’ berupa vaksin yang diberi nama StreptoVac. StreptoVac merupakan vaksin inaktif bakteri Streptococcus agalactiae-N14G untuk pencegahan penyakit Streptococcosis pada ikan nila.

Vaksin tersebut mampu menginduksi respon kebal spesifik (antibodi) pada ikan nila. Antibodi tersebut mulai aktif 1-2 minggu pasca vaksinasi, dan proteksi berlangsung selama 3-4 bulan. Untuk meningkatkan kadar antibodi serta periode proteksi hingga lebih dari 4 bulan, perlu dilakukan vaksinasi ulang (booster) yang diberikan 1-2 bulan dari saat vaksinasi pertama.

DOSIS DAN APLIKASI VAKSIN STREPTOVAC

Persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi pada ikan antara lain : (1) Ikan telah berumur lebih dari 2 minggu. (2) Kesehatan ikan harus dalam kondisi prima. (3) Hindari pemberian vaksin pada ikan sedang sakit. (4) Suhu air relatif hangat (di atas 25 °C) dan stabil.

Vaksin StreptoVac dapat diberikan melalui 3 cara, pertama yakni dengan teknik perendaman. Caranya, rendam ikan dalam larutan vaksin selama 15-30 menit.

Teknik ini sangat ideal untuk ikan ukuran benih. Perendaman dapat dilakukan di bak beton/fiber glass/akuarium atau ember plastik. Dosis yang digunakan adalah 100 ml vaksin untuk 1.000 liter air atau 1 ml vaksin untuk setiap 10 liter air. Air bekas rendaman pertama masih dapat segera (tidak lebih dari 2 jam) digunakan sekali lagi untuk tujuan yang sama.

Cara kedua yakni melalui pakan (pellet). Teknik ini cocok untuk ikan yang sudah dipelihara di kolam/jaring atau sebagai vaksinasi ulang (booster). Vaksin diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Semprotkan larutan vaksin tersebut ke pakan secara merata, lalu keringanginkan dan selanjutnya diberikan kepada ikan. Dosis yang diberikan adalah 2-3 ml/kg bobot tubuh ikan. Pemberian vaksin dilakukan selama 5-7 hari berturut-turut.

Terakhir, melalui penyuntikan. Teknik ini terutama untuk ikan yang bernilai ekonomi tinggi atau calon induk. Dosis vaksin yang diberikan adalah 0,1-2 ml/kg bobot tubuh ikan. Penyuntikan dapat dilakukan melalui rongga perut (intra peritoneal) atau dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik 30 derajat.

HARAPAN PEMANFAATAN VAKSIN DI MASYARAKAT

Kegiatan vaksinasi sebagai keharusan dalam suatu budidaya ikan nila dapat dilaksanakan dengan pengembangan vaksin Streptovac ini. Penggunaan vaksin untuk membuat kekebalan pada tubuh ikan terhadap serangan bakteri tersebut merupakan suatu alternatif yang menguntungkan dibandingkan dengan pengobatan.

Ketersediaan vaksin anti streptococcosis pada ikan nila diharapkan dapat men-jadi terobosan dalam upaya pengendalian penyakit yang lebih menjanjikan. Dalam rangka pemanfaatan jenis vaksin tersebut di masyarakat, beberapa informasi teknis yang terkait dengan standarisasi masih perlu dieksplorasi agar produk tersebut dapat diterima secara ilmiah, hukum dan memenuhi standar produk vaksin. (Rinda Fauzi Suandi)

Share:
Komentar

Berita Terkini